Ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi aku selalu
gelabakan. Banyak yang aku cari dari sepatu,pena,buku dan kacamata. Menurutku itu
sudah menjadi hal biasa dalam cerita pagiku. Datang ke sekolah selalu hampir
telat, di omelin sama mama, diteriakin biar akunya tidak gelomat alias lelet
bin lemot. Huhhh begitu susahnya untuk datang lebih awal dan tidak di omelin
sama mama but it’s no problem for me^^. Waktu terus berjalan. Jarum jam sudah
menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh pagi waktu indonesia bagian barat. Aku
masih belum siap untuk berangkat kesekolah. Sibuk sendiri seperti orang yang
sedang binggung mencari contekan ketika PR harus dikumpulkan.
Penaku sudah ada. Sepatuku sudah dipakai. Bukuku semuanya sudah
tersusun rapi didalam tasku dan Kacamataku?. OMG, kemana kacamataku ! aku
bergegas mencarinya. Berlari dari dapur keruang tamu kemudian kelantai atas
menuju semua kamar dan berlabuh dihatimu alias didepan televisi(warning! Jangan
GR). Huuhhh aku sedih. Semua tempat sudah aku telusuri tapi kau masih tak ku
temukan.
Detik demi detik telah berlalu.
Menit demi menit sudah terlewati.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Kau(kacamataku) masih tak ditemukan :(
Aku harus pergi ke sekolah walaupun kegalauan masih melandaku dan
memutuskan tidak menggunakan kacamata untuk hari ini.
Diperjalanan hiruk-pikuk kota
Lubuklinggau begitu terasa. Kegalauan di hati ini masih terasa ketika teringat
kemanakah kacamataku sekarang. Apa jadinya aku tanpamu !! Ooh kacamataku,
kemanakah dirimu ? :(
Kemana-kemana-kemana....
Ku harus mencari kemana....
Kekasih tercinta,tak tahu dimana.....
Lama tak pulang kerumah.....
Dimana-dimana dimana (Lho kok jadi nyanyiin lagu ayu ting-ting ?????)
Kamu tahu kacamataku, begitu sulit
mata ini untuk melihat dari kejauhan, menikmati hiruk-pikuk diperjalanan sangat
tidak nikmat, polusi udara yang begitu menganggu dan orang-orang dijalan yang
tidak aku kenal beserta bayangannya. Kemudian telah terlihat dari kejauhan
sekolahku begitu indah walaupun penglihatan ini kabur seperti tertutup oleh
kabut sekolahku tetap bagus nan indah. Bahkan lebih indah dari pemandangan
jalan yang ku lihat.
Tanpa disadari pintu gerbang yang
biasanya masih terbuka lebar,telah ditutup hingga gerbang itu tidak lebar lagi
alias nyaris di tutup. Aku bergegas turun dari mobil dan berlari terbirit-birit
tanpa aku pandang lagi wajah teman-temanku yang belaga galo tu(bahaso Linggau
jokk). Aku terus berlari sampai akhirnya aku bertemu pujaan hatiku alias tumpukan tas yang banyak bagaikan gunung(hmm
itu mah bukan pujaan hati tapi …). Kutaruhlah tasku disana lalu bergegaslah aku
bergabung kebarisan teman-temanku untuk mengikuti upacara.
Upacara telah berlalu kini jam
pelajaran akan segera di mulai. Pak Sutarja, seorang guru Bimbingan Konseling
yang selalu tepat waktu dan tidak pernah telat maupun absen dalam kegiatan
belajar-mengajar setiap hari senin-pun masuk ke kelas. Huuhh, bapak apakah anda
tidak capek,panas-panas habis upacara”kataku dari dalam hati. “Inilah tanggung
jawab seorang guru nak”sahutnya dari bayanganku dengan bijak.huuhh
menyeramkan(tapikan ini bukan horror!)
Wajah pak Sutarja yang begitu
kasep,berkumis dan hitam manis-pun tak terlihat jelas dimataku. Beliau menjelaskan
tentang Jurusan yang bagus agar kami bisa menentukan jurusan dengan kemampuan
kami melalui media infocus atau proyector tapi, aku tak dapat melihatnya hanya
bayangannya saja. A seperti Q, W seperti M, B seperti R. OoOoOohh Bagaimana ini
? Lagi-lagi aku harus merepotkan teman sebangku Omes. Begitu juga dengan
pelajaran yang lainnya pada hari itu aku merepotkannya. Terutama pelajaran
Matematika selain deg-degan dan was-was takut dipanggil maju kedepan, saat
pelajaran tersebut aku paling merepotkannya.
Waktunya untuk pulang sekolah-pun
tiba. Aku belum pulang kerumah karena masih banyak hal yang harus aku
selesaikan di oraganisasi(asiiikk,Calon WANITA karir. Amin ya ALLAH) walaupun
pekerjaan itu tidak selesai-selesai alias masih ngandet karena kebanyakan cekakak-cekikiknya
yang penting seru. Sore-pun menjemput,kami pulang kerumah masing-masing.
Sesampai dirumah hal yang pertama yang aku lakukan mencari kacamataku. Kutelusuri
rumahku dari lantai bawah ke lantai atas lalu kelantai bawah lagi kemudian ke
lantai atas lagi tapi, masih tak ditemukan. Ahah aku punya ide buat bilang sama
papa beliin kacamata baru tapi, itu imposible. Pasti mama grumle(iuhh
atuuutTt). Akhirnya aku memutuskan untuk mencari kacamataku di kolong-kolong
rumahku. Ini dia ! kutemukan dirimu dibawah kolong meja belajarku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar